Selain bahaya hydrogen sulfida, longsor juga mengancam areal pembangkit tersebut.
PLTP Ulumbu berada di tebing terjal yang rawan longsor.
Baca Juga:
Pemkab Karawang Targetkan 100 Ribu Kunjungan Wisatawan Selama Libur Lebaran 2026
Pada awal April 2021, ketika seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur dilanda Badai Seroja, terjadi longsor di sisi lokasi pembangkit.
Kontur tanah di daerah itu tergolong rawan amblas.
Petugas diminta selalu waspada ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi selama lebih dari dua hari.
Baca Juga:
Pemkab Karawang Percepat Perbaikan Jalan Rusak Jelang Mudik Lebaran 2026, Fokus pada Jalur Strategis dan Titik Rawan
Kepala Teknik Panas Bumi Wilayah Kerja Panas Bumi Ulumbu, Haryadi, mengatakan, hingga Senin (4/10/2021), PLTU Ulumbu telah beroperasi selama 1.027.997,87 jam.
Selama itu pula, tidak terjadi satu kali pun insiden.
“Setiap tempat kerja, termasuk di sini tentu memiliki risiko. Namun, semua itu sangat tergantung pada tingkat kepatuhan kita terhadap prosedur keselamatan yang sudah diatur,” kata Haryadi, yang juga petugas paling senior di PLTP Ulumbu.