“Kita akan menarik transmisi listrik dan membangun gardu induk di sana menggunakan jalur-jalur distribusi sampai ke rumah-rumah. Untuk membangun transmisi dan gardu induk itu kita juga gunakan PMN, dan kita sambung ke pelanggan pemasangan tegangan rendah,” lanjut dia.
Adi mengatakan, pemasangan listrik di daerah 3T memang cukup mahal.
Baca Juga:
Cegah Bahaya, ALPERKLINAS Ajak Masyarakat Laporkan Aktivitas di Dekat Jaringan Listrik ke PLN
Hal ini karena daerah-daerah tersebut memiliki jalur yang sulit dilalui, sehingga kerja sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat sangat dibutuhkan.
“Daerah-daerah yang jalurnya sangat sulit, ini membawa tiang-tiang listrik saja sangat sulit. Menggunakan stasiun pengisian dari sinar matahari ini memerlukan effort kerja sama PLN dan Pemda, kemudian juga harus dibantu oleh masyarakat setempat untuk bisa menyeberangi sungai untuk bisa tanam tiang,” jelas dia.
Adapun alokasi PMN 2023 nanti akan digunakan untuk membangun pembangkit senilai Rp 1,7 triliun, kemudian untuk bangun transmisi dan gardu induk sebesar Rp 3,7 triliun dan untuk membangun jaringan distribusi sejumlah Rp 3,7 triliun.
Baca Juga:
UID Kalselteng Bangun Sirkuit SUTR 200 Meter ke Puskesmas Gambah Kandangan
“Jadi PMN Rp 10 triliun itu terus terang tidak untuk IKN. Enggak ada,” tegas dia.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga.
Arya bilang, PMN yang dialokasikan kepada PLN sebesar Rp 10 triliun adalah untuk penugasan pembangunan jaringan listrik di desa-desa atau daerah 3T.