Sepenjelasan Herlan, letusan bertipe vulkanian dan strombolian terjadi tiga sampai empat kali setiap jam.
Letusan vulkanian dicirikan dengan letusan eksplosif yang kadang-kadang menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya.
Baca Juga:
Pakar UGM Angkat Suara Soal Kantong Teh Celup Disebut Lepaskan Miliaran Mikro Plastik
Strombolian
Sementara itu, Wahyudi, yang juga peneliti Gunung Api UGM, mengatakan, letusan Gunung Semeru juga bertipe strombolian, yang biasanya diikuti dengan pembentukan kubah dan lidah lava baru.
Baca Juga:
KPK Tak Terima Julukan Disebut Lebih Mirip 'Polsek Kuningan'
Menurutnya, pada saat terjadinya letusan eksplosif, biasanya akan diikuti terjadinya aliran awan panas yang mengalir ke lembah-lembah yang lebih rendah dan alirannya sesuai dengan bukaan kawah dan lembah-lembah di Gunung Semeru.
Sebut Wahyudi, bukaan kawah Gunung Semeru saat ini mengarah ke tenggaran atau ke hulu Besuk Kembar, Besuk Bang, Besuk Kobokan.
Kemudian, mengutip laman Institut Teknologi Bandung di alamat itb.ac.id, Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung, Dr Eng Mirzam Abdurrachman, berpendapat bahwa terkikisnya material abu vulkanik yang berada di tudung Gunung Semeru membuat beban yang menutup gunung hilang, sehingga mengakibatkan erupsi.